
Analisaforex.id – Pound Inggris (GBP) dipaksa bertekuk lutut di hadapan Dolar AS (USD) dalam dua hari terakhir. Mata uang yang akrab disapa Cable ini terus mencetak harga yang lebih rendah (lower lows) dan terjebak dalam tren penurunan (downtrend) yang sangat agresif.
Secara fundamental, kejatuhan ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari benturan kebijakan makroekonomi yang sangat jomplang antara Amerika Serikat dan Inggris. Berikut adalah latar belakang fundamental utama di balik amblasnya Sterling berdasarkan laporan media finansial terkemuka Reuters, Bloomberg, dan CNBC dalam tiga hari terakhir.
Kebangkitan Sang Raja: Hawkish Federal Reserve Bikin Dolar AS Perkasa
Faktor utama yang mendikte grafik downtrend GBP/USD adalah keperkasaan Dolar AS secara global. Laporan dari Reuters dan CNBC mengonfirmasi bahwa penataan ulang ekspektasi pasar terhadap kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve (Fed), menjadi motor penggerak utama. Sikap pejabat Fed yang tetap mempertahankan nada hawkish dan rilis data ekonomi AS teranyar—seperti S&P Global US Composite PMI yang melonjak kuat ke angka 58.4—membuktikan ekonomi AS sangat tangguh terhadap inflasi.
Akibatnya, pasar bertaruh kuat bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga. Ekspektasi ini memicu lonjakan yield (imbal hasil) obligasi pemerintah AS (US Treasury) 10-tahun ke level tertinggi. Tingginya imbal hasil obligasi AS bertindak bagaikan magnet raksasa yang menyedot likuiditas global masuk ke aset berdenominasi Dolar AS. Investor secara massal melepas Poundsterling dan memburu Dolar demi mengamankan keuntungan dari bunga yang lebih tinggi.
Dilema Bank of England dan Rapuhnya Ekonomi Inggris
Di sisi lain, Pound Inggris tidak memiliki daya gedor yang cukup untuk melawan penguatan Dolar. Berita dari Reuters melansir bahwa Bank of England (BoE) saat ini berada dalam posisi dilematis. Meskipun pasar mulai mengantisipasi kenaikan suku bunga BoE menjadi 4% pada bulan November akibat tekanan harga energi, langkah ini dinilai terlambat dibandingkan keagresifan The Fed.
Berdasarkan laporan Bloomberg mengenai data Final GDP kuartalan Inggris, ekonomi Inggris terindikasi mulai melambat dan berada dalam fase pertumbuhan yang rapuh. Risiko resesi domestik akibat tingginya biaya hidup dan krisis energi Timur Tengah membuat pelaku pasar meragukan kemampuan BoE untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka panjang. Ketimpangan fundamental ini tercermin jelas pada grafik, di mana setiap upaya kenaikan GBPUSD langsung dimentahkan oleh aksi jual masif karena minimnya dukungan fundamental bagi Sterling.
Berita forex yang lebih lengkap bisa kamu dapatkan di QuickPro
