EURUSD di Persimpangan Jalan: Akankah Euro Manfaatkan Luka Dolar Saat Timur Tengah Membara?

Analisa Forex Hari Ini – Mata uang Euro (EUR) berhasil mempertahankan momentum positifnya terhadap Dolar AS (USD) dengan kokoh bertahan di atas level psikologis 1.1500 pada perdagangan hari Senin ini. Melemahnya data penjualan ritel (retail sales) dan indeks sentimen konsumen Amerika Serikat baru-baru ini menjadi pemicu utama ambruknya daya taring sang Greenback. Pasar global kini mulai meredam ekspektasi mereka terhadap agresivitas Federal Reserve, di mana probabilitas kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan bulan September mendatang anjlok ke bawah kisaran 35 persen.

Meskipun Dolar AS sedang tertekan oleh data ekonomi domestik yang mengecewakan, jalan Euro untuk menguat lebih jauh dipastikan tidak akan mulus. Pelaku pasar kini bersikap defensif akibat eskalasi geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah. Berakhirnya masa gencatan senjata antara AS dan Iran, ditambah dengan blokade militer di Selat Hormuz, telah memicu lonjakan tajam pada harga minyak mentah WTI global.

Bagi Zona Euro, lonjakan harga energi ini bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, ancaman “energy-driven inflation” atau inflasi yang dipicu lonjakan biaya energi dapat memaksa Bank Sentral Eropa (ECB) untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Namun di sisi lain, tingginya harga minyak berisiko menekan pertumbuhan ekonomi Eropa yang baru saja mulai pulih.

Fokus pasar hari ini tertuju pada rilis data Empire State Manufacturing Index dari Amerika Serikat nanti malam. Jika data manufaktur ini kembali menunjukkan kontraksi, tekanan jual terhadap Dolar AS diprediksi akan semakin meluas dan membuka ruang bagi EURUSD untuk menguji level yang lebih tinggi. Sebaliknya, status Dolar AS sebagai aset safe-haven utama dunia tetap menjadi ancaman besar bagi Euro apabila konflik geopolitik global tiba-masing meletus menjadi konfrontasi militer skala penuh.

Berita forex yang lebih lengkap bisa kamu dapatkan di QuickPro