
Analisaforex.id – Pasar keuangan global mendadak diguncang badai besar. Mata uang Euro terkapar tak berdaya melawan keganasan Dolar AS, memaksa pasangan mata uang EURUSD terjun bebas ke kisaran 1.1220—level terendahnya sejak Mei 2025. Ketika para trader ritel sibuk melihat grafik, rahasia kehancuran Euro dalam dua hari terakhir ini murni didikte oleh kombinasi mematikan antara inflasi semu, lonjakan harga energi global, dan kebalnya ekonomi Amerika Serikat.
Ilusi Inflasi Eropa: Mengapa Kabar “Baik” Justru Menghancurkan Euro?
Berdasarkan laporan terbaru dari Reuters, data inflasi dari empat raksasa ekonomi Zona Euro—Jerman (3.3%), Prancis (3.4%), Italia (4.1%), dan Spanyol (5.0%)—kompak melonjak melampaui estimasi pasar. Secara teori, inflasi yang tinggi seharusnya memaksa Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga untuk memperkuat Euro. Namun, mengapa Euro justru ambruk?
CNBC mengungkapkan kenyataan pahit bahwa lonjakan inflasi ini murni didorong oleh meroketnya harga gas alam Eropa yang menembus €80 per megawatt hour akibat konflik geopolitik global. Berbeda dengan inflasi yang sehat karena pertumbuhan ekonomi, inflasi energi ini dipandang sebagai “pajak dadakan” yang mencekik daya beli rumah tangga dan industri di Eropa. Akibatnya, Presiden ECB Christine Lagarde dalam pidato terakhirnya mengisyaratkan sikap hati-hati karena lonjakan imbal hasil obligasi justru berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi domestik. Investor menyadari ECB tidak akan bisa seagresif itu, memicu pelarian modal massal keluar dari Euro.
Dolar AS Jadi “Raja” Akibat Lonjakan Yield Obligasi
Di seberang samudra, Dolar AS mendapatkan bahan bakar roket yang luar biasa. Laporan Bloomberg dan CNBC menegaskan bahwa pasar obligasi pemerintah AS mengalami aksi jual besar-besaran, mendorong imbal hasil (yield) US Treasury 2-tahun mendekati level simbolis 5.0%—tertinggi dalam multi-tahun.
Meningkatnya tensi perang di Timur Tengah setelah penolakan gencatan senjata membuat harga minyak mentah Brent bertengger kokoh di atas $100 per barel. Karena minyak dunia dihargai dalam dolar, ketegangan ini menciptakan rantai pasokan global yang mahal, memicu ketakutan bahwa Federal Reserve (The Fed) di bawah kendali hawkish-nya akan dipaksa menaikkan suku bunga sekali lagi pada akhir Oktober.
Morgan Stanley dalam catatan riset terbarunya secara resmi mengubah proyeksi mereka: Dolar AS diprediksi akan terus menguat hingga 2027, dengan target kejatuhan EURUSD menuju 1.1000. Divergensi pelebaran suku bunga ini membuat Dolar AS menjadi aset safe-haven paling berkilau di dunia saat ini, memicu aksi jual masif pada Euro yang tercermin jelas pada penurunan grafik dalam 48 jam terakhir.
Berita forex yang lebih lengkap bisa kamu dapatkan di QuickPro
