
Analisaforex.id – Nilai tukar EUR/USD menunjukkan tren penurunan yang sangat tajam dalam tiga hari terakhir, terjun bebas dari level psikologis 1.1648 hingga menembus ke bawah 1.1565. Fenomena pelemahan mata uang tunggal Eropa ini murni digerakkan oleh pergeseran fundamental global yang masif, meninggalkan para pemegang Euro dalam posisi yang sangat rentan.
Lantas, apa latar belakang fundamental utama yang membuat Euro babak belur di hadapan Dolar AS selama tiga hari belakangan ini?
Dolar AS Mengamuk Pasca Rilis Data Inflasi AS
Faktor utama yang memicu kehancuran EUR/USD adalah rilis data ekonomi dari U.S. Labor Department akhir pekan lalu. Berdasarkan laporan resmi yang dirilis oleh Reuters, inflasi indeks harga konsumen (CPI AS) melonjak 0.4% m/m pada bulan Agustus. Lebih buruk lagi, akselerasi pada Core CPI (inflasi inti) memicu kepanikan pasar.
Laporan dari CNBC menyatakan bahwa data inflasi yang panas ini langsung mengubah peta ekspektasi kebijakan moneter secara dramatis. Pasar keuangan kini menilai probabilitas sebesar 86% hingga 88% bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mengambil langkah agresif untuk menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) tengah pekan ini. Imbasnya, imbal hasil obligasi AS (Treasury Yield 2 tahun) meroket ke 4.63%, memicu perpindahan modal besar-besaran dari Eropa menuju Amerika Serikat demi memburu keuntungan bunga yang lebih tinggi.
Efek Bumerang Kenaikan Suku Bunga ECB
Ironisnya, tekanan terhadap mata uang Euro justru diperparah oleh keputusan internal Bank Sentral Eropa (ECB). Meskipun ECB baru saja menaikkan suku bunga acuan untuk menjinakkan inflasi domestik, langkah tersebut direspons negatif oleh para pelaku pasar global.
Menurut analisis dari Bloomberg, investor kini sangat mengkhawatirkan dampak buruk dari siklus pengetatan moneter yang berkepanjangan terhadap pertumbuhan ekonomi di Zona Euro. Dengan bayang-bayang resesi ekonomi yang kian nyata di benua biru, pelaku pasar berbondong-bondong melepas aset Euro mereka karena menilai ekonomi Eropa tidak akan sekuat ekonomi Amerika Serikat dalam menahan beban suku bunga tinggi.
Ledakan Geopolitik Timur Tengah Memicu Arus Safe Haven
Tidak hanya dari sektor data makroekonomi, faktor geopolitik internasional turut menjadi paku mati bagi pergerakan EUR/USD dalam 72 jam terakhir. Berita utama Reuters melaporkan ketegangan militer yang kembali membara setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran merebut kota pelabuhan strategis Mocha di Yaman dan memblokir Selat Hormuz.
Krisis ini memicu kepanikan energi global yang membuat harga minyak mentah Brent meroket melampaui $104 per barel. Lonjakan harga energi ini bertindak sebagai pajak inflasi baru yang sangat merugikan bagi Zona Euro sebagai kawasan importir minyak bersih. Di saat yang sama, ketakutan akan pecahnya perang skala besar mendorong investor global masuk ke mode risk-off (menghindari risiko) dan berburu Dolar AS yang memegang status sebagai aset penyelamat utama (safe haven) di dunia saat badai krisis melanda. Kombinasi dari ekspektasi The Fed yang hawkish, rapuhnya ekonomi Eropa, dan ancaman krisis geopolitik telah mengunci Euro dalam tren pelemahan yang sangat masif.
Berita forex yang lebih lengkap bisa kamu dapatkan di QuickPro
