
Analisa Forex Hari Ini – Pasangan mata uang paling likuid di dunia, EUR/USD, saat ini tengah berada dalam fase krusial yang digerakkan oleh adu kuat kebijakan moneter antara Federal Reserve (The Fed) dan European Central Bank (ECB). Dinamika geopolitik di Timur Tengah serta persistennya tekanan inflasi global memaksa kedua otoritas moneter tersebut mengadopsi pendekatan yang sangat berhati-hati, memicu kebuntuan arah yang mengunci pergerakan mata uang ini.
Sisi Keuangan AS: The Fed Menahan Suku Bunga di Tengah Perpecahan Internal
Langkah Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga acuan di level 3,50% – 3,75% pada pertemuan FOMC Juli menjadi katalis utama pelemahan Dolar AS dalam 24 jam terakhir. Kebijakan ini dibaca oleh pasar sebagai berkurangnya risiko kenaikan suku bunga jangka pendek, meskipun terdapat dinamika internal yang cukup tajam.
Tiga Presiden Fed regional tercatat mengajukan perbedaan pendapat (dissenting votes) karena mereka tetap menginginkan kenaikan suku bunga demi meredam inflasi. Dengan proyeksi inflasi PCE AS yang direvisi naik ke 3,6% akibat lonjakan harga energi dari konflik Teluk, The Fed kini resmi menghapus panduan ke depan (forward guidance). Absennya panduan ini berarti setiap data ekonomi yang rilis ke depan akan direspons pasar dengan volatilitas yang jauh lebih tinggi.
Sisi Kawasan Euro: Pasokan Energi Menguji Ketahanan ECB
Di seberang Samudra Atlantik, European Central Bank (ECB) juga menghadapi ujian yang hampir sama. Setelah menaikkan suku bunga deposito menjadi 2,25% pada bulan Juni, ECB memilih untuk menahan suku bunganya pada pertemuan pekan lalu. “The ECB left its deposit rate at 2.25% on 23 July… and said it is still watching whether higher energy costs feed into broader prices,” seperti dilaporkan oleh EBC.
Meskipun data inflasi tahunan Zona Euro melambat menjadi 2,8% pada bulan Juni, proyeksi staf ahli internal memperkirakan rata-rata inflasi tahun 2026 akan tetap bertengger di level 3,0% karena faktor biaya transportasi dan rantai pasok energi yang membengkak. Fragmentasi ekonomi internal Eropa juga semakin nyata; ekonomi Spanyol tumbuh solid sebesar 0,6% secara kuartalan berkat sektor pariwisata, sementara Prancis justru tergelincir ke zona kontraksi akibat pelemahan permintaan domestik.
Prospek Makro: Menanti Pecah Kongsi Kebijakan Moneter
Saat ini, pergerakan EUR/USD terjebak dalam kondisi Transatlantic Cancelation, di mana sikap hawkish dari The Fed dan ECB saling menetralkan satu sama lain. Menurut ulasan Investing.com, “The result is a market waiting for one bank to break ranks… leaving EUR/USD to chop inside a range.” Euro berpotensi mendapatkan dukungan fundamental baru jika rilis data inflasi Juli Jerman dan Zona Euro pekan ini kembali memanas. Tingginya angka inflasi Eropa dipastikan akan memaksa pasar untuk memperhitungkan kembali peluang kenaikan suku bunga lanjutan ECB pada bulan September mendatang, memberikan modal bagi Euro untuk keluar dari tekanan Dolar AS.
Berita forex yang lebih lengkap bisa kamu dapatkan di QuickPro