Posted in

Keputusan Mutlak The Fed Bikin Aussie Terjungkal ke Level Terendah Bulanan, Masih Bisa Selamat?

Analisaforex.id – Pasar keuangan global mendadak diguncang badai besar. Pasangan mata uang AUD/USD harus rela babak belur dan bergerak di bawah tekanan berat setelah dihantam oleh penguatan absolut Dolar AS (USD). Berdasarkan pantauan pergerakan grafik hari ini, Dolar Australia sempat terjembab mendekati area psikologis penting, mencerminkan kepanikan pasar yang hebat atas apa yang terjadi di Washington. Mengapa mata uang yang dikenal tangguh ini mendadak kehilangan tajinya?

Fed Naikkan Suku Bunga, Isyaratkan Kenaikan Lanjutan

Latar belakang fundamental utama dari kehancuran ini tidak lain adalah keputusan bersejarah dari Federal Reserve AS tadi malam. Dilansir dari CNBC, The Fed di bawah kepemimpinan Ketua Kevin Warsh secara mengejutkan mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75% – 4,00%. Ini merupakan kenaikan suku bunga pertama yang dilakukan AS dalam tiga tahun terakhir setelah periode panjang pelonggaran moneter. Langkah “spartan” The Fed ini dipicu oleh rilis data inflasi inti (Core CPI) AS pada hari-hari sebelumnya yang melonjak hingga 0.3% bulanan, melampaui prediksi konsensus para ekonom.

Tidak berhenti sampai di situ, kejutan terbesar yang benar-benar memicu eksodus modal keluar dari mata uang berisiko datang dari rilis dokumen Dot Plot terbaru. Laporan Reuters menyebutkan bahwa mayoritas pejabat bank sentral AS (16 dari 18 pembuat kebijakan) masih menginginkan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga tambahan di sisa tahun 2026 ini. Proyeksi ini sontak menerbangkan yield obligasi Treasury AS 10-tahun hingga menembus angka psikologis 5% untuk pertama kalinya dalam 19 tahun terakhir.

Situasi Selat Hormuz Masih Panas

Kondisi tersebut menjadi pukulan ganda (double-whammy) bagi Dolar Australia. Sebagai mata uang komoditas (commodity currency), Dolar Australia sangat sensitif terhadap sentimen risiko global dan prospek pertumbuhan manufaktur. Mengutip dari Bloomberg, lonjakan suku bunga AS yang dipertahankan lebih tinggi dalam waktu lama (higher-for-longer) serta eskalasi konflik geopolitik yang sempat memanas di Selat Hormuz telah memicu aksi risk-off global secara massal. Investor kini berbondong-bondong memindahkan dana mereka dari aset berisiko seperti Australia menuju pelukan safe-haven Dolar AS yang kini menawarkan imbal hasil riil yang jauh lebih seksi.

Meskipun pasar memperkirakan Reserve Bank of Australia (RBA) masih akan menaikkan suku bunganya menjadi 4.35% pada akhir bulan ini untuk menjinakkan inflasi domestik, daya tariknya kini sepenuhnya tertutupi oleh agresivitas The Fed yang di luar dugaan. Tanpa adanya katalis positif dari data ekonomi China sebagai mitra dagang utama Australia, fundamental AUD/USD diprediksi akan terus berada di bawah bayang-bayang tekanan turun yang pekat.

Berita forex yang lebih lengkap bisa kamu dapatkan di QuickPro