
Analisaforex.id – Pasar keuangan global dalam dua hari terakhir menjadi saksi kejatuhan tajam pasangan mata uang AUDUSD. Grafik satu jam (H1) yang dilampirkan menunjukkan runtuhnya nilai tukar Dolar Australia dari level puncak di atas 0.7040 menuju area dasar di kisaran 0.6938. Gerakan downtrend struktural yang sangat konsisten ini murni didorong oleh pergeseran peta kekuatan makroekonomi global yang masif dalam 24 hingga 72 jam terakhir.
Spekulasi Hawkish Fed Masih Kental
Latar belakang fundamental utama yang mencekik pergerakan Aussie bersumber dari laporan terbaru media ekonomi internasional terkemuka. Berdasarkan laporan dari Reuters dan Bloomberg, keperkasaan Dolar AS (USD) menjadi faktor utama yang merontokkan mata uang berisiko seperti Dolar Australia. Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis solid memicu spekulasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan sikap kebijakan moneter yang ketat (hawkish). Kondisi ini didukung oleh lonjakan yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) 10-tahun yang kokoh di atas level 5.20%, sehingga membuat arus modal global berbondong-bondong keluar dari instrumen berisiko dan beralih mengamankan likuiditas ke dalam Dolar AS.
Inflasi Inti Australia Melandai
Di sisi domestik, pelemahan Aussie diperparah oleh rilis data inflasi kuartalan dan bulanan teranyar dari Biro Statistik Australia. Mengutip berita dari CNBC, pertumbuhan Indeks Harga Konsumen (CPI) inti Australia (trimmed mean) tercatat melandai ke angka 3.6%. Meskipun Reserve Bank of Australia (RBA) sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan ke level 4.60%, penurunan inflasi yang mulai stabil ini secara drastis memangkas ekspektasi pasar mengenai adanya kenaikan suku bunga lanjutan di sisa tahun ini. Berkurangnya agresivitas RBA tersebut membuat daya tarik imbal hasil (yield) dari mata uang Aussie meredup seketika di hadapan Greenback.
Selain itu, posisi AUD sebagai mata uang pro-risiko (risk-sensitive currency) sangat sensitif terhadap dinamika ekonomi Tiongkok sebagai mitra dagang terbesarnya. Laporan dari Bloomberg menunjukkan bahwa meskipun aktivitas manufaktur China (PMI) berhasil merangkak naik ke area ekspansi 50.1 pada bulan September, pemulihan ekonomi di sana dinilai masih belum merata dan rapuh akibat krisis sektor properti berkepanjangan. Kurangnya stimulus berskala masif dari Beijing menahan selera risiko pasar global, yang secara otomatis memicu aksi jual pada komoditas ekspor andalan Australia, seperti bijih besi dan tembaga, serta menekan nilai tukar AUD.
Malam ini, tekanan fundamental terhadap AUDUSD berpotensi mencapai puncaknya. Fokus seluruh pelaku pasar tertuju pada data kelas berat (high impact) di kalender ekonomi Forex Factory, yaitu ISM Manufacturing PMI Amerika Serikat. Jika data manufaktur AS malam ini dirilis melampaui ekspektasi pasar, maka dominasi Dolar AS akan semakin tidak terbendung, dan prospek perbaikan jangka pendek bagi Dolar Australia dipastikan akan kembali kandas di pasar global.
Berita forex yang lebih lengkap bisa kamu dapatkan di QuickPro
