
Analisa Forex Hari Ini – Poundsterling mengalami tekanan berat menyusul pengunduran diri Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer. Langkah mendadak ini memicu lonjakan volatilitas akibat ketidakpastian arah kebijakan ekonomi dan suksesi kepemimpinan baru di Inggris.
Sentimen negatif GBP semakin diperparah oleh data ekonomi riil yang mengecewakan:
- Flash PMI Jasa Inggris Juni merosot ke angka 48.7 (di bawah ekspektasi 50.1).
- PMI Komposit Inggris jatuh ke level terendah dalam 14 bulan di angka 49.4.
Kontraksi beruntun ini mengonfirmasi bahwa pertumbuhan ekonomi Inggris kian melandai akibat tingginya biaya pinjaman dan beban utang negara.
Ketangguhan Ekonomi dan Sikap Hawkish Fed
Sebaliknya, Dolar AS perkasa di zona tertinggi satu tahun terakhir (DXY mendekati 101.40). Keperkasaan greenback ditopang oleh rilis data S&P Global US Manufacturing PMI Juni yang melesat ke 55.7, rekor tertinggi sejak pertengahan 2022.
Ketahanan sektor manufaktur dan pasar tenaga kerja AS yang solid memberi ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan sikap hawkish. Pasar kini mengantisipasi potensi penyesuaian kenaikan suku bunga satu kali lagi sebelum akhir tahun, yang secara kontras memperlebar jarak daya tarik imbal hasil antara USD dan GBP.
Secara fundamental, bias pergerakan GBPUSD condong ke arah bearish dalam jangka pendek. Penguatan teknikal apa pun ke area resistance kemungkinan besar akan dimanfaatkan oleh pelaku pasar sebagai peluang jual (sell on rally) selama gejolak politik di Downing Street belum mereda.
Referensi: Berita Forex