
Analisaforex.id – Pergerakan nilai tukar Poundsterling terhadap Dolar AS (GBPUSD) tengah menjadi pusat perhatian pelaku pasar global. Jika kita mencermati situasi pasar dalam dua hari terakhir, mata uang Inggris ini tampak terjebak dalam pergerakan mendatar (sideways) namun membawa kecenderungan tertekan yang cukup kuat. Fenomena fundamental di balik melambatnya performa Poundsterling ini tidak lepas dari benturan dua kebijakan bank sentral utama dunia dan gejolak ekonomi makro global yang dirilis oleh media finansial internasional seperti Bloomberg, Reuters, dan CNBC.
Pergulatan Sentimen di Internal BoE
Latar belakang utama dari fase sideways yang melelahkan ini adalah pergulatan sentimen di internal Bank of England (BoE). Berdasarkan laporan dari Reuters, salah satu penentu kebijakan BoE, Megan Greene, menyatakan kekhawatiran mendalam mengenai prospek kenaikan upah pekerja di Inggris yang diproyeksikan tumbuh sekitar 3,5% tahun depan. Komentar bernada hawkish ini mengindikasikan bahwa disinflasi upah berjalan lambat, memicu ekspektasi bahwa mayoritas Komite Kebijakan Moneter (MPC) kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 4% pada pertemuan November mendatang demi meredam inflasi.
Di sisi lain, anggota MPC lainnya, Catherine Mann, juga memperingatkan melalui data yang dikutip AJ Bell bahwa inflasi Inggris berisiko melesat kembali ke level 4% menjelang pergantian tahun akibat lonjakan biaya energi. Ketakutan akan inflasi yang melonjak ini menahan Poundsterling agar tidak jatuh terlalu dalam, menciptakan batas bawah yang membuat harganya bergerak konsolidasi atau sideways.
USD Masih Perkasa
Namun, mengapa dalam dua hari terakhir posisinya justru cenderung tertekan ke bawah? Jawabannya ada pada keperkasaan Dolar AS. Mengutip data dari Vantage Markets, Indeks Dolar AS (USDX) sempat melonjak menyentuh level tertinggi sejak April 2025. Keperkasaan Dolar dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan AS (Nonfarm Payrolls) dan pergeseran ekspektasi pasar. Kini, mayoritas pelaku pasar bertaruh bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memilih opsi untuk mempertahankan suku bunga (hold) pada pertemuan Oktober, ketimbang melakukan pemangkasan agresif.
Pengaruh Konflik Geopolitik
Selain itu, konflik geopolitik yang memanas di Timur Tengah menyuntikkan premi risiko (risk premium) yang tinggi ke pasar global. Investor global berbondong-bondong memindahkan aset mereka ke Dolar AS sebagai instrumen safe haven utama. Akibatnya, meskipun BoE melemparkan sinyal mempertahankan suku bunga tinggi, daya tarik Dolar AS yang didukung oleh sentimen risk-off global jauh lebih dominan. Hal inilah yang mendasari mengapa pasangan GBP/USD terus mengalami tekanan jual yang persisten dalam 48 jam terakhir dan sulit untuk bangkit dari zona konsolidasinya.
Berita forex yang lebih lengkap bisa kamu dapatkan di QuickPro
