
Analisaforex.id – Pound Sterling (GBP) sedang berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. Jika Anda memperhatikan grafik pergerakan GBPUSD dalam dua hari perdagangan terakhir, mata uang Inggris ini terus terpuruk ke zona merah dan membentuk tren turun yang sangat konsisten. Di balik kejatuhan dramatis ini, terdapat pergeseran fundamental yang masif dan krusial di panggung ekonomi global.
Berdasarkan laporan terbaru dari media mainstream finansial internasional seperti Reuters, Bloomberg, dan CNBC, kejatuhan GBP/USD didorong oleh dua motor utama: keagresifan Federal Reserve (The Fed) yang tak terbendung dan internal ekonomi Inggris yang dibayangi lonjakan biaya energi.
The Fed Agresif Untuk Suku Bunga, Dolar Mengamuk
Latar belakang fundamental terbesar yang menghancurkan Pound Sterling adalah keperkasaan Dolar AS. Laporan dari CNBC dan The New York Times mengonfirmasi bahwa setelah The Fed mengerek suku bunga acuannya ke kisaran 3,75% – 4,00%, pasar kini bertaruh 70% bahwa bank sentral AS tersebut akan menaikkan suku bunga sekali lagi sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober mendatang.
Sentimen hawkish ini meledak setelah data S&P Global U.S. Business Activity melonjak ke level tertinggi dalam lima tahun terakhir. Ketika ekonomi AS menunjukkan ketahanan yang luar biasa, investor berebut memburu Dolar AS karena menawarkan imbal hasil obligasi (yield) yang jauh lebih seksi dan aman. Akibatnya, arus modal keluar secara masif dari aset berisiko seperti Pound Sterling menuju US Dollar.
Dilema Bank of England dan Ancaman ‘Kotak Korek Api’ Inflasi
Di sisi seberang, Bank of England (BoE) sedang terjebak di posisi dilematis. Berdasarkan rilis dari Reuters, dua pembuat kebijakan senior BoE, Clare Lombardelli dan Sarah Breeden, memperingatkan adanya risiko besar inflasi yang mengendap lama di Inggris akibat lonjakan harga energi. Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah terus menyumbat aliran minyak mentah dan membuat harga energi domestik Inggris meroket.
Meskipun inflasi Inggris merangkak naik ke level 3,1%, BoE baru saja memilih menahan suku bunga di angka 3,75%. Ketidakpastian langkah BoE yang dianggap kalah agresif dan “tertinggal di belakang kurva” dibandingkan The Fed memicu kekhawatiran pelaku pasar. Investor menilai ekonomi Inggris jauh lebih rentan terhadap ancaman resesi akibat guncangan pasokan energi global dibanding ekonomi AS yang mandiri secara energi.
Kesimpulan Hari Ini
Divergensi kebijakan antara The Fed yang bernada super-hawkish dan BoE yang kebingungan menghadapi ancaman inflasi energi domestik menciptakan badai sempurna bagi GBP/USD. Selama sentimen penguatan Dolar AS mendominasi pasar global, jalur paling masuk akal bagi Pound Sterling adalah terus tertekan ke bawah, sangat selaras dengan skenario downtrend berkelanjutan yang tergambar jelas di pasar saat ini.
Berita forex yang lebih lengkap bisa kamu dapatkan di QuickPro
