
Analisaforex.id – Pasar valuta asing (Forex) pekan ini disuguhkan oleh pemandangan menarik dari performa Dolar Australia (AUD) yang bergerak dalam tren naik (uptrend) yang solid terhadap Dolar AS (USD). Menariknya, meskipun sempat diterpa oleh koreksi minor dalam dua hari terakhir, penurunan tersebut terbilang sangat minimum. AUD/USD berhasil bertahan kuat di atas ambang batas psikologis 0.7000.
Apa sebenarnya kekuatan magis yang melatarbelakangi ketangguhan mata uang “Aussie” ini di tengah ketidakpastian global? Jawabannya terletak pada kombinasi kejutan fundamental domestik dan dinamika bank sentral dunia.
RBA yang ‘Hawkish’ dan Ancaman Kenaikan Suku Bunga Kelima
Faktor pendorong utama yang membuat AUD begitu perkasa adalah sikap tegas dari Reserve Bank of Australia (RBA). Di saat beberapa bank sentral global mulai melunakkan kebijakan moneter mereka, para pejabat RBA justru menyuarakan sinyal yang sangat ketat (hawkish).
Asisten Gubernur RBA, Christopher Kent, serta Deputi Gubernur Andrew Hauser secara terbuka memperingatkan bahwa prospek inflasi di Australia masih memburuk. Tekanan harga yang persisten—diperparah oleh lonjakan harga minyak global akibat ketegangan Timur Tengah—membuat pasar berspekulasi bahwa RBA bisa saja menaikkan suku bunga acuannya (Cash Rate) untuk kelima kalinya tahun ini melampaui level 4.6%. Ekspektasi kenaikan imbal hasil (yield) inilah yang menarik arus modal masuk secara masif ke mata uang Australia.
Meredupnya Taruhan Kenaikan Suku Bunga Federal Reserve (The Fed)
Di sisi lain benua, Dolar AS justru kehilangan sebagian daya tariknya. Meskipun data inflasi AS (CPI) sempat melonjak ke angka 3,7%, pelaku pasar di Wall Street mulai menurunkan ekspektasi mereka terhadap agresivitas Federal Reserve.
Kontrak berjangka suku bunga (Fed funds futures) menunjukkan probabilitas yang rendah bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga kembali dalam jangka pendek. Penurunan imbal hasil obligasi AS (US Treasury Yields) yang menyertainya ikut menekan indeks Dolar AS (DXY), memberikan ruang bagi mata uang berbasis risiko seperti AUD untuk melesat naik dengan leluasa.
Dorongan Produk Domestik Bruto (PDB) China
Sebagai mata uang yang sangat sensitif terhadap komoditas dan aktivitas ekonomi global, Dolar Australia juga mendapatkan suntikan angin segar dari mitranya, China. Rilis data pertumbuhan ekonomi (PDB) China yang berhasil melampaui ekspektasi pasar memicu kembalinya selera risiko (risk sentiment) global. Pemulihan aktivitas manufaktur dan permintaan komoditas dari Negeri Tirai Bambu secara otomatis memperkuat fundamental ekspor Australia, memperkokoh pondasi pergerakan uptrend pasangan mata uang ini.
Mengapa Koreksi Dua Hari Terakhir Hanya Berlangsung Minimum?
Meskipun data aktivitas bisnis (PMI) Australia yang dirilis di akhir pekan menunjukkan sedikit kontraksi di sektor jasa, koreksi pada AUDUSD sangat terbatas. Hal ini terjadi karena para investor menyadari bahwa fokus utama RBA saat ini murni tertuju pada angka inflasi riil, bukan perlambatan bisnis jangka pendek. Selama ketakutan akan inflasi yang tinggi masih membayangi Australia, posisi beli (long position) pada AUD tetap menjadi pilihan favorit para trader.
Pergerakan AUDUSD saat ini membuktikan bahwa perbedaan kebijakan moneter (divergensi kebijakan) antara RBA yang ketat dan The Fed yang mulai terbatas adalah motor penggerak utama di pasar Forex. Dengan data inflasi Australia berikutnya yang sudah di depan mata, volatilitas AUDUSD dipastikan akan semakin menarik untuk terus dipantau.
Berita forex yang lebih lengkap bisa kamu dapatkan di QuickPro
