
Analisaforex.id – Bagi para trader yang memperhatikan pergerakan grafik AUDUSD, tren penurunan tajam (downtrend) yang terjadi dalam dua hari terakhir bukanlah sebuah kebetulan semata. Berdasarkan data grafik aktual, mata uang berlogo Kangguru ini tertekan hebat setelah gagal mempertahankan posisinya dan terus merosot dari batas psikologisnya menuju kisaran 0.6950. Di balik layar market forex, kombinasi runtuhnya sentimen domestik Australia dan kebangkitan keperkasaan Dolar AS (Greenback) menjadi dalang utama yang memaksa AUD/USD bersimpuh di zona merah.
Lantas, apa latar belakang fundamental nyata yang meremukkan Dolar Australia dalam 48 jam terakhir? Berikut adalah bedah tuntas faktor penggeraknya berdasarkan rujukan media finansial internasional terkemuka:
RBA Melunak, Konsumen Australia “Rontok” di Tengah Jalan
Pemicu utama pelemahan masif Dolar Australia berakar dari rilis data internal mereka sendiri. Laporan terbaru dari Reuters menunjukkan bahwa Indeks Sentimen Konsumen Westpac Australia anjlok drastis untuk bulan Oktober. Lonjakan suku bunga acuan Reserve Bank of Australia (RBA) ke level tertinggi 15 tahun di angka 4,60% ternyata menjadi bumerang yang mencekik pengeluaran rumah tangga.
Gubernur RBA, Michele Bullock, dalam konferensi pers terbarunya mengindikasikan nada yang jauh lebih pasif (dovish). RBA mengakui perlunya waktu untuk melihat efek pengetatan moneter yang mulai merusak daya beli masyarakat. Akibatnya, pasar langsung memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan di bulan November, merampas keunggulan imbal hasil (yield) yang selama ini menopang AUD.
Dolar AS Mengamuk, Membakar Mata Unit Komoditas Global
Di sisi seberang, Dolar AS justru kembali memamerkan taringnya. Berdasarkan laporan dari CNBC, indeks Dolar AS (DXY) dan yield obligasi US Treasury jangka panjang tetap kokoh bertahan di level tinggi. Meskipun data Non-Farm Payrolls (NFP) AS akhir pekan lalu dilaporkan melambat, investor global justru berbondong-bondong memburu mata uang Amerika Serikat sebagai aset pengaman utama (safe-haven) menyusul ketidakpastian geopolitik dan krisis utang yang mulai menjalar di zona Eropa. Sebagai mata uang yang sangat sensitif terhadap risiko global (risk-on asset), Dolar Australia otomatis menjadi korban pertama yang dilepas oleh para pengelola dana besar.
Pasar Komoditas Lesu, Ekspor Australia Ikut Terpukul
Sebagai negara yang ekonominya sangat bergantung pada ekspor komoditas, kejatuhan harga minyak mentah global dan melambatnya aktivitas industri di China dalam beberapa hari terakhir berimbas langsung pada nilai tukar AUD. Laporan dari Bloomberg menegaskan bahwa korelasi erat antara AUD dengan indeks komoditas membuat posisi beli (long position) Aussie terpaksa dilikuidasi secara massal. Selama ketakutan akan perlambatan ekonomi global terus membayangi, fundamental AUDUSD diperkirakan akan tetap berada di bawah tekanan jual yang berat.
Berita forex yang lebih lengkap bisa kamu dapatkan di QuickPro
