
Analisa Forex Hari Ini – Dolar AS (USD) benar-benar menunjukkan taringnya setelah rilis data Consumer Price Index (CPI) bulan Mei tadi malam. Akibat lonjakan harga energi global, inflasi AS meroket ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Meskipun angka ini sesuai dengan ekspektasi, realisasi tersebut mengonfirmasi momok mengerikan bagi perekonomian: sticky inflation (inflasi yang membandel).
Kondisi ini memaksa para pelaku pasar Reuters mengubur dalam-dalam harapan mereka akan pemotongan suku bunga dalam waktu dekat. Federal Reserve (The Fed) diprediksi kuat akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama (higher-for-longer), dengan proyeksi pemangkasan yang terdorong mundur jauh hingga Desember 2026.
Situasi semakin memanas setelah militer AS meluncurkan gelombang serangan udara baru ke wilayah Iran menyusul kegagalan total dalam pembicaraan damai di Selat Hormuz. Ketegangan geopolitik ini langsung memicu aliran modal besar-besaran (safe-haven flows) ke mata uang USD. Indeks Dolar AS (DXY) pun kokoh di kisaran psikologis 99.90 – 100.00, secara otomatis menggencet posisi GBP/USD ke sudut ring.
Dilema Bank of England: Terjebak di Antara Perang dan Resesi
Di seberang Atlantik, Bank of England (BoE) menghadapi mimpi buruknya sendiri. Dampak konflik AS-Iran telah mengacaukan rantai pasok gas dan minyak dunia, yang berujung pada merangkaknya inflasi domestik Inggris kembali ke level 3.3% – 3.4%. Target inflasi 2% yang diidamkan BoE kini tampak semakin mustahil dijangkau.
Menjelang pertemuan krusial pada 18 Juni 2026 pekan depan, internal BoE dilaporkan pecah suara:
- Kubu Dovish: Pejabat BoE, Alan Taylor, menilai suku bunga saat ini (3.75%) sudah sangat mencekik dan restriktif bagi pertumbuhan ekonomi Inggris yang sedang rapuh.
- Kubu Hawkish: Anggota komite Megan Greene justru menyerukan perlunya kenaikan suku bunga darurat (insurance hike) ke level 4.00% jika konflik bersenjata terus berkepanjangan.
Pasar saat ini berspekulasi bahwa BoE kemungkinan besar akan memilih jalan tengah dengan menahan suku bunga di level 3.75% pada pekan depan.
Referensi: Berita Forex